PersadaFM — Satu warga binaan di Lapas Kelas II B Blitar berinisial H harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mardi Waluyo, Kota Blitar, usai mendapati kekerasan fisik dari sesama narapidana.
Kepala Lapas Kelas IIB Blitar, Romi Novitrion, menjelaskan, insiden tersebut melibatkan narapidana berinisial H, I, D, dan B. Peristiwa dipicu persoalan pribadi berupa utang piutang yang terjadi di luar lapas sebelum para pihak menjalani pidana dan kembali bertemu di dalam Lapas Kelas IIB Blitar.
“Permasalahan ini berawal dari konflik di luar lapas. Saat proses penerimaan tahanan, tidak ada keterangan adanya permusuhan. Namun setelah mereka bertemu kembali, persoalan tersebut muncul dan menjadi potensi gangguan keamanan,” jelas Kepala Lapas, Jumat (09/01).
Ia menuturkan, indikasi awal gangguan keamanan terjadi pada 25 Oktober 2025 saat narapidana I dan D menagih utang kepada H di dalam lapas. Petugas segera melakukan pengamanan, pemeriksaan, serta memfasilitasi mediasi dan komunikasi H dengan keluarganya. Sebagai langkah pencegahan lanjutan, pihak lapas juga melakukan pemindahan kamar hunian.
“Kami telah melakukan upaya mediasi, pengawasan, dan pemindahan hunian sebagai langkah pencegahan agar konflik tidak berlanjut,” ujarnya.
Dalam perkembangannya, pada 7 Desember 2025, diduga terjadi kekerasan fisik terhadap narapidana H yang melibatkan I, D, dan B. Peristiwa tersebut diketahui saat petugas melakukan kontrol keliling blok hunian dan mendapati adanya keramaian di kamar H. Pihak lapas segera melakukan tindakan pengamanan, menyusun Berita Acara Pemeriksaan (BAP), menjatuhkan sanksi disiplin, serta menerapkan pengasingan sementara terhadap warga binaan yang terlibat.
Sementara itu, terkait kondisi kesehatan H, Romi menambahkan bahwa pada 5 Januari 2026 dini hari, H mengalami kejang dan langsung mendapatkan penanganan medis awal di Klinik Lapas sebelum dirujuk secara darurat ke RSUD Mardi Waluyo.
“Begitu ada laporan kejang, petugas langsung bertindak. H dirujuk secara emergensi dan saat ini dirawat intensif. Hak kesehatan warga binaan menjadi prioritas kami,” tegasnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, H didiagnosis mengalami stroke batang otak, disertai pembengkakan paru-paru, pendarahan lambung, penyakit kulit, serta kekurangan natrium. (ziz/riz)






