PersadaFM – Dinas Kesehatan Kota Blitar menggelar fogging atau pengasapan secara serentak di lingkungan sekolah mulai jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA) sejak September 2026. Langkah ini dilakukan untuk menekan risiko penularan demam berdarah dengue (DBD) di lingkungan pendidikan.
Koordinator DBD Puskesmas Sananwetan, Irene Cosmalinda Agatha, mengatakan berdasarkan data Puskesmas Sananwetan, tercatat satu kasus DBD di wilayah Karangtengah pada Agustus 2026. Sementara itu, laporan kasus lainnya merupakan demam dengue (DD), yang berbeda dengan DBD.
“Demam dengue merupakan kondisi yang perlu dibedakan dari demam berdarah dengue. Karena itu, pemantauan gejala dan pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis,” ujar Irene.
Pelaksanaan fogging merupakan tindak lanjut instruksi Dinas Kesehatan Kota Blitar dengan melibatkan tiga puskesmas, yakni Sananwetan, Sukorejo, dan Kepanjenkidul.
Menurut Irene, pengasapan dilakukan untuk membunuh nyamuk dewasa sekaligus meminimalkan risiko penularan DBD. Namun, fogging bukan menjadi langkah pencegahan utama dan tidak berarti setiap sekolah yang menjadi sasaran ditemukan kasus DBD.
“Harapannya, dengan fogging ini bisa dilakukan pengendalian atau setidaknya meminimalkan risiko penularan DBD. Fogging sendiri fungsinya untuk membunuh nyamuk dewasa,” jelasnya.
Irene menegaskan, pencegahan utama DBD tetap melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Melalui kombinasi fogging dan PSN 3M Plus, risiko perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti di lingkungan pendidikan diharapkan dapat ditekan sehingga upaya pencegahan penularan DBD berjalan lebih efektif. (riz)






