PersadaFM – Banyak orang berangkat ke luar negeri dengan harapan mengubah nasib. Namun tidak semua mampu mengubah pengalaman perantauan menjadi sesuatu yang lebih besar ketika kembali ke tanah air. Bagus Anggi Satriyo Mandiri, S.M. adalah salah satu di antaranya.
Pria asal Blitar ini membuktikan bahwa menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) bukan sekadar tentang mencari penghasilan di negeri orang. Bagi Bagus, masa-masa merantau di Taiwan menjadi sekolah kehidupan yang membentuk cara berpikir, menambah wawasan, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk bermimpi lebih besar.
Di Taiwan, Bagus tidak hanya bekerja. Ia aktif berorganisasi, menempuh pendidikan tinggi, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya. Di tengah kesibukan sebagai pekerja migran, ia tetap menyempatkan diri untuk belajar dan mengembangkan diri, hingga akhirnya berhasil meraih gelar Sarjana Manajemen. Semangatnya untuk memberikan manfaat bagi sesama juga terlihat ketika ia menggagas Indonesia Tempo Dulu 1, sebuah festival budaya yang mempertemukan ribuan warga Indonesia di Taiwan. Melalui kegiatan itu, ia ingin menjaga rasa kebersamaan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.
Kecintaannya terhadap tanah air juga membawanya dipercaya terlibat dalam proyek penelitian Museum Nasional Taiwan untuk membantu mengidentifikasi dan mendokumentasikan koleksi bersejarah asal Indonesia. Sebuah kepercayaan yang tidak datang begitu saja, tetapi lahir dari dedikasi, kemampuan, dan kepeduliannya terhadap bangsa.
Bagus juga dikenal aktif membangun organisasi dan komunitas. Ia pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Universitas Terbuka Taiwan, mendirikan Gerakan Pemuda Satu Indonesia (GPSI), hingga menggagas Mapala Universitas Terbuka Taiwan. Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana mengajak orang lain untuk tumbuh bersama.
Ketika memutuskan pulang ke Indonesia, Bagus membawa lebih dari sekadar tabungan. Ia membawa pengalaman, ilmu, jaringan, serta keyakinan bahwa dirinya bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi daerah asalnya. Berbekal pengalaman bekerja di perusahaan interior besar di Taiwan, ia mendirikan Disma House, sebuah usaha yang bergerak di bidang interior dan furnitur custom. Dari usaha yang dibangun dengan semangat dan kerja keras tersebut, Bagus mulai menghadirkan standar kualitas, kedisiplinan, dan profesionalisme yang ia pelajari selama merantau.
Kini Disma House terus berkembang dan dipercaya menangani berbagai kebutuhan interior rumah maupun perkantoran. Tidak sedikit kliennya berasal dari kalangan PMI yang ingin mengubah hasil jerih payah mereka di luar negeri menjadi rumah impian bagi keluarga di kampung halaman.
Bagi Bagus, kesuksesan seorang PMI tidak berhenti ketika kontrak kerja berakhir atau ketika ia kembali ke Indonesia. Justru di titik itulah kesempatan baru dimulai.
Pengalaman hidup, keterampilan, dan mental tangguh yang terbentuk selama merantau dapat menjadi modal besar untuk membangun usaha, membuka lapangan pekerjaan, dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Kisah Bagus Anggi menjadi inspirasi bahwa setiap pengalaman memiliki nilai jika diolah dengan sungguh-sungguh. Dari Taiwan hingga kembali ke Blitar, ia membuktikan bahwa mantan PMI tidak hanya mampu menjadi pahlawan devisa, tetapi juga dapat tumbuh menjadi pengusaha, pemimpin, dan motor penggerak ekonomi daerah.






