PersadaFM — Pengurus Seni Tradisional Tiban Kabupaten Blitar periode 2026–2029 resmi dikukuhkan Bupati Blitar di Pendopo Ronggo Hadinegoro, Senin (27/4).
Momentum pengukuhan ini langsung diikuti dorongan percepatan gerak organisasi, dengan fokus menghidupkan event serta memperluas kolaborasi hingga luar daerah.
Bupati Blitar, Rijanto, menegaskan, seni tiban merupakan warisan budaya yang memiliki nilai historis, filosofis, dan spiritual tinggi, sekaligus mencerminkan kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat.
“Di tengah arus modernisasi, seni tradisional seperti tiban menghadapi tantangan serius. Karena itu, pengurus harus aktif membina generasi muda, berinovasi tanpa meninggalkan nilai luhur, serta membangun kolaborasi agar tetap eksis,” tegasnya.
Pengukuhan tersebut dihadiri sekitar 200 peserta dari 20 kelompok tiban yang tersebar di Kabupaten Blitar.
Dalam kepengurusan baru, Sokeh Nur Salim dari Cambuk Wulung dipercaya sebagai ketua, didampingi Tukimin dari Cambuk Sakti sebagai sekretaris, serta Faisol Quroni dari Thatit Maliran sebagai bendahara.
Sementara itu, Pembina Paguyuban Tiban Blitar–Tulungagung, Guntur Wahono, menekankan bahwa pasca pengukuhan, paguyuban harus segera mengakselerasi kegiatan.
“Setelah ini harus langsung bergerak. Event-event harus mulai digelar, termasuk membuka ruang laga dengan daerah lain seperti Tulungagung, Trenggalek hingga Banyuwangi,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam waktu dekat akan dilaksanakan kunjungan budaya ke Lampung Timur sebagai bagian dari tradisi tahunan pertukaran seni dengan komunitas Badak Lampung.
Selain itu, Guntur juga mendorong pembentukan kepengurusan tiban di 22 kecamatan di Kabupaten Blitar guna memperkuat basis pengembangan.
“Kalau semua kecamatan punya, perkembangan tiban akan lebih cepat dan besar,” imbuhnya.
Pemerintah Kabupaten Blitar memastikan dukungan penuh terhadap pelestarian seni dan budaya daerah, dengan harapan seni tiban tidak hanya tetap lestari, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik unggulan yang membanggakan. (riz)






