free web hit counter
""

70 TAHUN KONFERENSI ASIA AFRIKA, MEGAWATI INGATKAN BAHAYA TEKNOLOGI DAN KEPENTINGAN IMPERIALIS

PersadaFM – Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menghadiri peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digelar di Museum Bung Karno, kompleks Makam Bung Karno, Kota Blitar, Sabtu (1/11/2025).

Acara yang mengangkat semangat solidaritas antarbangsa itu diawali dengan penampilan kesenian tradisional Patria Loka yang menggambarkan nilai-nilai perjuangan dan budaya Nusantara.

Turut hadir mendampingi Megawati antara lain Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, serta jajaran pengurus DPP, DPD, dan DPC PDI Perjuangan se-Jawa Timur. Hadir pula akademisi ternama Connie Rahakundini Bakrie, sejumlah rektor perguruan tinggi, serta perwakilan negara sahabat, Bupati dan Wakil Bupati Blitar.

Dalam sambutannya, Megawati menyampaikan pidato bernas mengenai warisan pemikiran Bung Karno yang tetap relevan hingga kini. Ia menyebut Bung Karno bukan hanya sosok ayah, melainkan juga seorang guru bangsa dan pejuang sejati yang gagasannya melampaui zamannya.

“Bung Karno memperoleh 26 gelar Honoris Causa dan juga profesor. Ia besar di Blitar, tempat di mana karakter dan nasionalismenya tumbuh. Ibu Bung Karno berasal dari Bali, dan dari sana lahir filosofi Twat Tam Asi, yang artinya ‘aku adalah kamu, kamu adalah aku’. Itulah semangat kemanusiaan sejati,” ujar Megawati.

Dalam kesempatan itu, Megawati juga menegaskan sikap politik luar negeri Indonesia yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina, sebagaimana diamanatkan oleh Bung Karno. Ia menegaskan bahwa kedaulatan adalah hak mutlak setiap bangsa.

Menyinggung perkembangan teknologi, Megawati mengingatkan agar generasi muda tidak terbuai oleh kecanggihan Artificial Intelligence (AI).

“AI tidak lebih hebat dari otak manusia, karena otak adalah ciptaan Tuhan. Jangan tergila-gila dengan AI, karena jika tidak hati-hati, ia bisa menjadi bentuk baru imperialisme,” tegasnya.

Baca Juga :  HARI KEDUA OPERASI PATUH SEMERU 2025, POLRES BLITAR KOTA BAGIKAN HELM DAN COKLAT BAGI PENGGUNA JALAN YANG TERTIB

Megawati juga berbagi kisah perjalanan hidupnya. Ia mulai terjun ke dunia politik sejak usia 14 tahun dan mengagumi tokoh dunia seperti Khrushchev dari Rusia yang menurutnya berani dan berpandangan jauh ke depan.

Ia menambahkan, Bung Karno selalu berpikir futuristik. Pidato Bung Karno ‘To Build The World Anew’ menggambarkan cita-cita besar untuk membangun dunia yang lebih adil dan beradab.

” Pancasila yang beliau rumuskan adalah persembahan bagi dunia karena nilai ketuhanan dan kemanusiaannya bersifat universal,” katanya.

Megawati kemudian berpesan kepada generasi muda agar memahami pentingnya geopolitik sebagai penentu arah masa depan bangsa.

“Anak muda jangan kuper. Kalian harus paham geopolitik, karena itu yang menentukan apakah bangsa ini berdiri tegak atau tidak,” tegasnya.

Dalam pidatonya, ia juga menyoroti sistem internasional yang menurutnya masih timpang. Ia mempertanyakan dominasi lima negara yang memiliki hak veto di PBB — Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, dan Tiongkok yang dianggapnya sudah tidak relevan dengan semangat keadilan global.

“Pola pikir dunia harus diubah. Semua negara seharusnya punya hak yang sama dalam mengambil keputusan internasional,” ujar Megawati menutup pidatonya dengan lantang. (riz)