PersadaFM – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar terus mempercepat pelaksanaan vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terhadap hewan ternak sebagai langkah pencegahan.
Hingga pertengahan Juli 2025, capaian vaksinasi mencapai 61.173 ekor ternak atau sekitar 62,18 persen dari total alokasi vaksin tahun ini sebanyak 98.362 dosis. Angka ini menunjukkan progres yang cukup baik, namun Disnakkan menegaskan bahwa cakupan tersebut belum maksimal dan perlu ditingkatkan, terutama menjelang musim penghujan yang diperkirakan datang pada bulan November.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Disnakkan Kabupaten Blitar, Nanang Miftahudin, menyampaikan bahwa vaksinasi adalah bentuk perlindungan awal terhadap ternak agar mampu membentuk daya tahan tubuh dan tidak mudah terpapar penyakit. Ia mengimbau seluruh peternak agar tidak menunda proses vaksinasi.
“Kami minta peternak tidak menunggu. Segera vaksin ternaknya. Saat ini vaksin masih tersedia secara gratis, jadi manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya sebelum musim hujan datang,” tegasnya.
Alokasi vaksin PMK tahun 2025 di Kabupaten Blitar berasal dari dua sumber anggaran, yaitu 80.062 dosis dari APBN dan 18.300 dosis dari APBD. Vaksinasi menyasar seluruh ternak rentan seperti sapi potong, sapi perah, kambing, domba, dan babi yang tersebar di berbagai kecamatan.
“Pelaksanaan vaksinasi dilakukan oleh petugas teknis dari Disnakkan dan dibantu oleh relawan dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jatim 8, anggota DPC Paravetindo Blitar Raya, serta petugas dari koperasi sapi perah”, tambah Nanang.
Lanjut Nanang, Vaksinasi digencarkan pada periode Juli hingga September 2025 sebagai langkah strategis untuk memastikan kekebalan ternak terbentuk sebelum risiko penularan meningkat saat musim hujan.
Selain itu, peternak juga diminta segera melapor apabila menemukan gejala klinis seperti demam tinggi, hipersalivasi, atau luka pada kuku dan mulut ternak. Disnakkan menegaskan bahwa jika alokasi vaksin habis, peternak tetap bisa melakukan vaksinasi secara mandiri.
“Jangan tunggu wabah datang. Kalau bisa dicegah hari ini, kenapa harus menunggu besok? Ini tentang menjaga keberlangsungan usaha ternak, sekaligus melindungi ekonomi keluarga,” pungkas Nanang. (riz)






