free web hit counter
""

Santri Harus Adaptif di Era Digital, Gus Tamim: Mengaji Tetap, Teknologi Dikuasai

PersadaFM – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Ahmad Tamim, mendorong santri agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren. Penguasaan teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), dinilai penting untuk menyiapkan santri menghadapi tantangan zaman.

Hal tersebut disampaikan Gus Tamim saat menghadiri Apel Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2026 di Alun-Alun Kanigoro, Kabupaten Blitar, Kamis (22/10/2026) malam.

Menurut Gus Tamim, semangat perjuangan santri dalam mengisi kemerdekaan saat ini harus diwujudkan melalui kegiatan positif, seperti belajar, berkarya, berinovasi, dan menguasai ilmu pengetahuan.

Ia menilai, perjuangan generasi muda saat ini tidak lagi berorientasi pada perang melawan penjajah, melainkan bagaimana mengisi kemerdekaan dengan kontribusi nyata bagi bangsa.

“Perangnya adalah mengisi kemerdekaan,” ungkapnya.

Gus Tamim juga mengapresiasi semangat berkarya dan belajar yang didorong dalam peringatan Hari Santri, termasuk melalui pemberian penghargaan di bidang robotika dan rekayasa AI. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu bentuk upaya mendorong generasi muda agar mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Ia menegaskan, pesantren perlu terbuka terhadap kemajuan teknologi. Namun, keterbukaan tersebut tidak berarti santri harus meninggalkan tradisi mengaji dan mempelajari kitab kuning yang menjadi fondasi pendidikan pesantren.

“Pesantren harus melek teknologi. Tidak mungkin santri tidak adaptif dengan teknologi. Maka, tetap mengaji kitab, tetap belajar kitab kuning, tetapi jangan kemudian mempertentangkan kitab kuning dengan pelajaran-pelajaran modern,” tegasnya.

Ia menjelaskan, tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama (NU) mengajarkan pentingnya menjaga tradisi lama yang baik sekaligus mengambil hal-hal baru yang membawa manfaat. Prinsip tersebut dinilai relevan diterapkan dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.

Karena itu, pendidikan agama dan ilmu pengetahuan modern harus berjalan beriringan. Santri perlu memiliki pemahaman keagamaan yang kuat sekaligus kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Baca Juga :  PERINGATI HARI DISABILITAS INTERNASIONAL DAN HKSN 2025, PEMKAB BLITAR DUKUNG PENGEMBANGAN RUMAH LATIH ABK

Dengan pendekatan tersebut, santri diharapkan mampu menjadi generasi yang tetap berpegang pada nilai-nilai pesantren, tetapi juga kompeten, inovatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

“Ngajinya tetap, teknologinya dikuasai, sehingga nanti santri aktual sesuai dengan era dan zamannya,” pungkasnya. (riz)