PersadaFM – Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Blitar meluncurkan proyek perubahan untuk memperkuat sistem pembinaan anak binaan melalui pendekatan konseling, Senin (17/08/2026).
Program ini digagas Kepala LPKA Kelas I Blitar, Jaka Prihatin, sebagai bagian dari proyek perubahan dalam Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II.
Jaka mengatakan, proyek tersebut diarahkan untuk membangun pola pembinaan yang lebih sistematis dan memiliki panduan yang jelas. Selama ini, pembinaan telah dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai instansi, namun dinilai masih perlu diperkuat dalam satu sistem yang terintegrasi.
“Perlu suatu sistem yang mengembangkan pola pembinaan anak binaan berbasis konseling. Dengan konseling ini kita akan tahu kemampuan dan kemauan anak ke mana, kemudian kita siapkan sarana pelatihan sesuai kemampuan dan kemauannya,” ujar Jaka.
Melalui proyek tersebut, setiap anak binaan akan mendapatkan konseling yang dilengkapi dengan program parenting, mentoring, coaching, serta pengembangan jiwa kewirausahaan. Sementara bagi pegawai, akan disiapkan buku panduan dan modul agar memiliki standar dalam menjalankan proses pembinaan.
Untuk mendukung pelaksanaannya, LPKA Blitar akan menggandeng sejumlah pihak, di antaranya PKPI, Universitas Islam Balitar (Unisba), Taya Cafe, serta motivator dan mitra lainnya.
Jaka mengatakan saat ini pihaknya masih menyusun buku panduan sebagai dasar pelaksanaan program. Tahap berikutnya akan dilakukan focus group discussion (FGD), kemudian dilanjutkan pelatihan bagi pegawai agar program dapat segera diterapkan.
“Setelah FGD, kita langsung bergerak untuk pelatihan. Tidak harus menunggu lama,” tegasnya.
Jaka berharap proyek perubahan tersebut tidak hanya diterapkan di LPKA Blitar, tetapi dapat menjadi model pembinaan yang bisa dikembangkan di LPKA lainnya. Ia juga berencana mengusulkan buku panduan tersebut kepada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan agar dapat menjadi rujukan secara lebih luas.
Program ini diharapkan mampu membantu anak binaan mengenali potensi dan minatnya sejak dini, sehingga pembinaan yang diberikan lebih tepat sasaran dan menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat. (riz)






